Total Tayangan Halaman

Rabu, 15 Februari 2012

Straight Edge - Hidup "Lurus" Ala Anak Muda



No Sex, No Drugs, No Alcohol, No More…
“I’m a person just like youBut I’ve got better things to do
Than sit around and fuck my head 
Hang out with the living dead

Snort white shit up my nose
Pass out at the shows I don’t even think about speed
That’s something I just don’t need
I’ve got the straight edge” (Straight Edge – Minor Threat)


Aliran musik keras seperti Hardcore, Punk maupun Rock n Roll biasanya tidak luput dari hal-hal yang berbau negatif seperti konsumsi obat-obatan terlarang, alkohol maupun melakukan seks bebas. Sebuah idiom sex, drugs and Rock n roll juga sepertinya sudah sangat melekat pada orang-orang yang gemar dan menganut scene musik rock maupun rock n roll. Ternyata tidak semua penganut aliran musik keras juga menganut lifestyle yang mengarah kepada hal-hal yang negatif juga. Seperti halnya mereka yang mengatakan mereka adalah seorang Straight edge. Apa itu Straight edge? Mungkin bagi para sebagian anak-anak punk maupun hardcore tahu arti dari Straight edge.
Awal mula Straight Edge berkembang
Straight edge, seseorang yang hidup “lurus-lurus saja” tanpa sentuhan rokok, minuman keras, obat-obatan maupun seks bebas. Berawal dari grup band yang bernama The Modern Lovers, band beraliran protopunk era 70’an yang menciptakan scene punk tidak hanya diposisikan sebagai orang-orang yang anarkis, rusuh, ugal-ugalan maupun hal-hal yang berbau negatif lainnya termasuk mengkonsumsi rokok dan alkohol sekalipun. Filosofi awal seseorang dikatakan straight edge adalah mereka yang tidak ingin merusak dirinya sendiri dengan hal-hal yang negatif dan dapat merugikan dirinya sendiri maupun orang-orang di sekitar mereka.
Kemudian di awal tahun 80’an, grup band Minor Threat membuat lagu tentang orang-orang dengan pemahaman “lurus” dengan judul Straight edge. Dari situlah istilah straight edge mulai berkembang hingga sekarang. Grup band ini menjadikan straight edge sebagai gaya hidup mereka dan mereka mencoba untuk menerapkannya kepada para fans mereka dengan selalu menyanyikan lagu tersebut di setiap pertunjukannya. Selain itu, para penganut gaya hidup straight edge mencoba untuk memperlihatkannya dengan menggunakan simbol X yang digambar di punggung tangan mereka. Adapula yang dipakai dalam bentuk pin, pakaian maupun di gambar di bagian tubuh lainnya.
Simbol X bermula dari band Teen Idles yang bermain di suatu klub San Francisco. Peraturan didalam klub tersebut, remaja yang masih berusia di bawah 18 tahun tidak boleh masuk. Sedangkan seluruh anggota band rata-rata berumur di bawah 18 tahun. Awalnya mereka tidak boleh bermain di dalam klub itu tetapi manajer band Teen Idles akhirnya membuat symbol X di tangan para pemainnya agar para staf yang bekerja di klub tidak memberikan minuman beralkohol kepada mereka. Akhirnya, setiap kali mereka manggung di setiap klub, mereka selalu menerapkan peraturan yang sama kepada para staf klub dan para anggotanya selalu menandakan symbol X besar di kedua punggung tangannya.
Straight Edge versus Non Straight Edge
Sempat pada era 90an, straight edge menjadi suatu masalah. Dari yang awalnya mereka manggung satu panggung dengan band-band yang non straight edge, kemudian mereka membentuk satu komunitas dan media tersendiri menjadi satu kesatuan para pengikut paham straight edge. Era tersebut disebut era Militan. Era militan yaitu di mana para militan yang merupakan sekelompok straight edge melakukan sikap garis keras terhadap orang-orang non straight edge. Jadi di sini mereka membentuk suatu pemikiran yang lebih anarkis dengan memandang picik orang-orang non straight edge, kemudian merasa bahwa orang-orang yang mengikuti paham straight edge adalah orang-orang yang sempurna karena mereka tidak melakukan hal-hal negatif, tetapi cara mereka malahan lebih anarkis.
Pada masa militan itulah nama straight edge sempat tercoreng. Orang-orang sempat berpandangan miring terhadap kata-kata straight edge. Banyak orang-orang yang non straight edge menjadi berpandangan bahwa menjadi straight edge ternyata tidak selamanya menunjukkan perilaku yang baik dengan tidak mengkonsumsi hal-hal negatif maupun melakukan hal-hal yang negatif. Mereka menjadi berpikir bahwa sekelompok orang yang mengaku dirinya straight edge kala itu merupakan orang-orang yang merasa ‘sok suci’.
Namun pada akhirnya, awal tahun 2000, straight edge kembali terselamatkan seiring dengan berkembangnya band-band baru. Berangsur-angsur stereotip negatif mengenai kelompok yang mengatakan mereka straight edge dapat pulih kembali. Straight edge mengalami pendewasaan dalam pola pikir dan semakin tolerant terhadap orang-orang non straight edge.
Straight Edge merupakan Pilihan Individu, bukan Paham
Semakin ke sini, banyak orang yang berpendapat bahwa straight edge bukan lagi merupakan paham maupun kelompok yang mengatakan bahwa mereka ‘hidup bersih’. Semua itu kembali lagi kepada pribadi seseorang masing-masing. Kesadaran diri seseorang untuk menjalani ‘hidup bersih’ bukan berarti ia mengikuti suatu gaya hidup karena memang semua kembali kepada jalan yang dipilih oleh individu. Menjadi seorang straight edge atau bukan, tidak dipaksakan karena semua itu adalah hak masing-masing.
Adapula orang-orang yang melakukan ‘hidup bersih’ dan sehat tentunya, dia tidak pernah mengaku bahwa dirinya adalah straight edge dan ikut dalam kelompok straight edge. Mereka menjalani kehidupan mereka sesuai dengan apa yang mereka temukan dan mereka pilih, apakah mereka mau hidup positif maupun negatif. Dan bukan hanya orang-orang yang mencintai aliran music Punk ataupun Hardcore saja yang dapat menjalani kehidupan straight edge. Orang-orang lain yang meggemari musik rock n roll, jazz, r&b, melayu sampai keroncong–pun dapat melakukan hal tersebut, yaitu menjadi straight edge.


Dikutip dari: http://www.kompasiana.com/rekamaharani/straight-edge-hidup-lurus-ala-anak-muda_54ffbdb88133116e67fa6fb4

0 komentar:

Posting Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites